Tampilkan postingan dengan label Al Hasani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Hasani. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 September 2011

SAYYID ABDULLAH ZAINI DAHLAN AL JAILANI (Ulama Syafi'i Makkah Al Mukarramah)



Al Allamah Arifbillah Assayyid Abdullah bin Shodaqoh Al Jailani Al Hasani adalah seorang ulama besar Madzhab Syafi’i yang menjadi pengganti kemaqaman ilmu pamannya, Al Allamah Arifbillah Shahibul Fatawa Assayyid Ahmad Zaini Dahlan Al Jailani Al Hasani. Beliau dilahirkan di Makkah Al Mukarramah oleh seorang wanita shalihah yang merupakan adik dari Al Allamah Arifbillah Assayyid Abu Bakar Syatho Addimyathi pada tahun 1290 H (1874 M).

Beliau merupakan keturunan dari Sulthan Aulya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dan Imam Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Nasabnya adalah Sayyid Abdullah bin Shodaqoh bin Zaini Dahlan bin Ahmad Dahlan bin Utsman Dahlan bin Ni’matullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Utsman bin Athoya bin Faris bin Musthafa bin Muhammad bin Ahmad bin Zaini bin Qadir bin Abdul Wahhab bin Muhammad bin Abdu Razzaq bin Ali bin Ahmad bin Ahmad Al Mutsana bin Muhammad bin Zakaria bin Yahya bin Muhammad bin Abu Abdullah bin Hasan bin Sulthan Aulya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani bin Abu Shalih Musa bin Janki Dausat bin Yahya Azzahid bin Muhammad bin Daud bin Musa Al Juni bin Abdullah Al Mahdi bin Hasan Al Mutsana bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib yang menikah dengan Fathimah Azzahrah binti Rasulullah SAW.

Ayahnya telah wafat ketika Sayyid Abdullah berusia enam tahun. Maka sejak itu beliau berada di bawah didikan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan hingga kewafatannya pada tahun 1304 H (1887 M) di Madinah Al Munawwarah. Setelah itu beliau kembali ke Makkah dan belajar di bawah bimbingan langsung pamannya, Sayyid Abu Bakar Syatho Addimyathi. Selain kepada pamannya, beliau juga belajar kepada ulama-ulama Makkah lainnya, diantaranya kepada Al Habib Husain bin Muhammad Al Habsyi dan Asy Syaikh Muhammad Husain Al Khayyath. Kedalaman dan pemahaman ilmunya yang luas itu menjadi Sayyid Abdullah dipercaya sebagai imam di Maqam Ibrahim (tempat bagi imam Madzhab Syafi’i).

Sayyid Abdullah dikenal sebagai ulama yang mempunyai kegigihan dakwah yang tinggi. Setelah sekian lama tinggal di Makkah, beliau kemudian hijrah ke berbagai negara demi menyeberkan agama Islam. Diantara negara-negara yang beliau kunjungi adalah Zanjibar, Yaman, India, Mesir, Bahrain, Iraq, Suriah, Srilanka, Malaysia, Singapura dan Indonesia. Ketika beliau berdakwah di Malaysia, beliau sempat diangkat menjadi Mufti di Kedah Kedua, namun jabatan itu hanya dijalaninya selama satu tahun (1904 M sampai 1905 M), beliau lebih memilih untuk mengembara lagi dalam berdakwah.

Yang unik diantara semua perjalanannya adalah, beliau memilih Indonesia sebagai persinggahan terakhirnya. Beliau memutuskan untuk menetap di Desa Ciparaya Girang, Karang Pawitan, Garut, Jawa Barat. Disanalah beliau menetap hingga menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1943 M, dua tahun sebelum kemerdekaan Indonesia.

Selain sebagai imam, pengajar, Mufti dan Muballigh, beliau juga produktif menulis kitab-kitab untuk generasi mendatang, diantara kitab karangan beliau adalah :

  1. Irsyad Dzil Ahkam
  2. Zubdatus Sirah Nabawiyyah
  3. Tuhfatuth Thullab Fii Qawa’idil I’raab
  4. Khulashoh Attiryaq Min-Samum Asy Syiqaq
  5. Irsyadul Ghafil Ilaa Mafith Thariqah Attijaniyyah Minal Bathil
  6. Fatawa Fil Ibthal Thariqah Wahdatil Wujud

SAYYID MUHAMMAD BIN IBRAHIM AL YA'QUBI (Muhaddits Suriah)



Al Allamah Arifbillah Al Muhaddits Al Mursyid Assayyid Muhammad bin Ibrahim bin Ismail Shiddiq bin Muhammad Hasan Al Ya’qubi Al Hasani adalah seorang Ahlubait dari keturunan Imam Hasan bin Ali bin Abu Thalib yang lahir di Damaskus, Suriah pada kisaran tahun 1383 H (1963 M). Beliau adalah seorang ahli Hadits yang merupakan salah satu tokoh ulama besar di Damaskus, bersama Syaikh Rajab, Mufti Damaskus. Ayah dan kakeknya adalah para ulama besar di Damaskus yang menjadi imam di Masjid Agung Umayyah.

Diantara keistimewaan beliau adalah ketika usianya baru 12 tahun, beliau sering mengajar menggantikan ayahnya jika sedang berhalangan. Di usianya yang ke-14 tahun, beliau telah dipercaya untuk mengisi Khutbah Jum’at di berbagai masjid, dan pada usia 17 tahun telah menjadi Khatib tetap di salah satu masjid besar di Damaskus. Guru utama beliau dalam mencapai itu semua adalah ayahnya sendiri, yang banyak mempunyai sanad Hadits langsung kepada datuknya Rasulullah SAW. Selain kepada ayahnya, beliau juga berguru ke sejumlah ulama-ulama besar di kotanya, diantaranya kepada Syaikh Muhammad Abu Yusr Abidin, Syaikh Muhammad Zainal Abidin Attunisi dan Syaikh Abdu Aziz Al Uyyud Asud.

Disamping sebagai ulama besar ahli Hadits, Sayyid Muhammad Al Ya’qubi juga merupakan seorang Mursyid bagi Thariqah Syadziliyyah. Beliau mendapat ijazah tersebut dari ayahnya, yang sanadnya menyambung kepada Rasulullah SAW. Sekian lama belajar dan mengajar di Damaskus, pada tahun 1990 M beliau melakukan uzlah ke negara-negara lain untuk menyebarkan agama Islam, khususnya ke Eropa, Amerika dan Australia. Banyak orang-orang disana yang sebelumnya kafir kemudian memeluk Islam setelah melihat kemuliaan ahklak dan ilmu yang ada pada diri beliau.

Sekitar tahun 2006 M, beliau berkesempatan mengunjungi Indonesia. Kedatangan beliau disambut hangat oleh para ulama dan pecinta ilmu di Nusantara, banyak diantara mereka yang meminta ijazah Hadits dari beliau, karena beliau banyak mempunyai sanad Hadits yang menyambung langsung kepada Rasulullah SAW. Selain mengunjungi para ulama-ulama, beliau juga menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Aulya, diantara ke makam Al Allamah Arifbillah Al Habib Husain bin Abu Bakar Alaydrus di Keramat Luar Batang, Jakarta.

Hingga kini beliau tetap berdakwah menyebarkan agama Islam, khususnya dalam bidang Hadits dan Tasawwuf. Adalah sifat beliau yang mengikuti tauladan datuknya, Rasulullah SAW, sehingga tidak heran banyak orang yang mengagumi dan berguru kepada beliau, termasuk ratusan orang-orang di Eropa, Amerika dan Australia yang sebelumnya kafir menjadi Muslim melalui tangan beliau.

Jumat, 09 September 2011

SAYYID THOHIR ALAUDDIN AL JAILANI (Juru Kunci Makam Syaikh Abdul Qadir Al Jailani)



Al Allamah Arifbillah Assayyid Thohir Alauddin Al Jailani Al Hasani adalah seorang ulama Qadariyyah yang menjadi juru kunci makam datuknya, Sulthan Aulya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Beliau lahir di Baghdad tanggal 18 Juni 1932 M. Beliau merupakan keturunan ke-17 dari Sulthan Aulya, dan keturunan ke-28 dari Rasulullah SAW. Ayahnya adalah juru kunci makam Sulthan Aulya sebelumnya. Begitu juga dengan kakeknya, semasa hidupnya beliau manjadi juru kunci makam, sekaligus menjadi Perdana Menteri Iraq selama dua tahun setelah kekuasaan Khalifah Utsmaniyyah berakhir.

Nasabnya beliau adalah, Sayyid Thohir Alauddin Al Jailani bin Mahmud Hisamuddin bin Abdurrahman bin Ali bin Musthafa bin Sulaiman bin Zainuddin bin Muhammad bin Hisamuddin bin Nuruddin bin Waliyuddin bin Zainuddin bin Syarafuddin bin Syamsuddin bin Muhammad Al Hattaki bin Abdul Aziz bin Sulthan Aulya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani bin Abu Shalih Musa bin Janki Dausat bin Yahya Azzahid bin Muhammad bin Daud bin Musa Al Juni bin Abdullah Al Mahdi bin Hasan Al Mutsana bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib yang menikah dengan Fathimah Azzahrah binti Rasulullah SAW.

Sayyid Thohir Alauddin mulai belajar ilmu agama kepada ayahnya, Sayyid Mahmud Hisamuddin Al Jailani, kemudian kepada seorang guru di Masjid Sultan Ali. Setelah itu melanjutkan ke Madrasah Darul Nizami dibawah bimbingan Syaikh Al Mullah Asad Affandi (Mufti wilayah Qasim, Iraq) dan Syaikh Kholil Al Baghdadi. Setelah lama belajar di Baghdad, pada tahun 1956 M, beliau hijrah menuju Pakistan dan menetap di Quetta hingga wafat. Kepindahan beliau dari Baghdad (Iraq) ke Pakistan bukan tanpa sebab, akan tetapi isyarah dari datuknya, Sulthan Aulya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani yang menyiratkan akan terjadinya sesuatu di Baghdad, dan benar, pada masa akhir hayat beliau terjadi perang di Baghdad.

Akhlak dan kepribadian Sayyid Thohir Alauddin ini begitu memukau dan mulia, sehingga banyak diantara para penguasa negeri Islam kala itu meminta beliau untuk menjadi menantunya. Diantara semua permintaan itu, beliau memilih Putri Sardar Yaar Khan Ahmad dari wilayah Kalat sebagai istrinya. Dari pernikahannya itu, beliau dikaruniai enam anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Diantara anak-anak laki-laki beliau adalah Sayyid Muhyiddin Mahmud (beliau mempunyai empat anak, Sayyid Thohir Hisamuddin, Sayyid Abdurrahman, Sayyid Saifuddin dan Sayyid Ahmad Nuruddin), Sayyid Jamaluddin Abdul Qadir (beliau mempunya satu anak, Sayyid Yahya Syamsuddin yang sempat menjadi Menteri Majelis Nasional Iraq) dan Sayyid Zainuddin Muhammad (beliau memiliki satu anak, Sayyid Thohir Alauddin)

Menjelang akhir hayatnya, Sayyid Thohir Alauddin menderita sakit parah hingga dirujuk ke Jerman oleh murid-muridnya. Beliau wafat disana pada hari Jum’at, tanggal 23 Dzulhijjah 1411 H (7 Juni 1991 M). Rencananya beliau akan dimakamkan di Baghdad, namun karena situasi di Baghdad dan Iraq umumnya sedang berlangsung peperangan, maka beliau dimakamkan di Lahore, Pakistan. Saking banyaknya pelayat yang datang, pemakaman selesai pukul 03.00 pagi.